Oktober
16
Ini tulisan teman KTB semasa SMA,sangat menyentuh dan -mendarat-, dengan pengajaran dan pemahaman yang benar..
Silahkan dinikmati
Marriage
Allah menganugerahkan kepada kita cinta yang tidak terbatas, bukti cinta itu nyata kita lihat melalui pengorbanan Kristus di kayu salib. Tidak akan ada kisah cinta sejati yang dapat mengalahkan peristiwa salib. Dengan cinta-Nya yang begitu besar itu, ia memampukan kita mencintai orang lain, mencintai sesama kita. Cinta itu harusnya lahir dari Allah sendiri.
Allah juga yang merancang ide pernikahan, menyatukan kedua insan dengan prinsip kesepadanan, di dalam institusi yang didasarkan pada Kristus. Allah yang mempersatukan dua daging menjadi satu tubuh. Allah melalui Roh Kudus memimpin pernikahan menjadi keluarga misi yang menjadi berkat bagi sesama manusia. Allah yang mengubah hati pria menjadi seorang ayah, dan wanita menjadi seorang ibu. Allah yang mengijinkan sebuah pasangan memiliki keturunan, mengijinkan seorang wanita memiliki janin dalam perutnya dan melahirkan dengan penuh kesakitan. Membuat seorang pria bangga di balik kaca rumah sakit karena tangisan kecil seorang bayi.
Karena anugerah dan kasih-Nya yang begitu besarlah, seorang suami dan ayah dapat mencintai istri dan anaknya dalam suka dan duka sebagaimana janji suci yang diikrarkan dalam pernikahan. Memilih berada di rumah dibandingkan hangout dengan teman – teman prianya. Memilih mengantarkan anaknya pergi ke gereja pagi dibandingkan tidur. Memilih membantu istrinya di rumah dibandingkan menonton pertandingan sepak bola bersama teman – teman lamanya.
Karena kasih Allah pula yang memampukan
Silahkan dinikmati
Marriage
Pernikahan harusnya menjadi rencana Allah.
Mengapa kita merasa bahwa kita berhak atas pernikahan.
Allah yang menganugerahkan segala sesuatu.
Allah yang memberikan pernikahan,
Allah yang memberikan cinta,
Allah yang menciptakan laki – laki dan perempuan.
Namun seringkali kita merasa kita berhak atas pernikahan.
Allah menganugerahkan kepada kita cinta yang tidak terbatas, bukti cinta itu nyata kita lihat melalui pengorbanan Kristus di kayu salib. Tidak akan ada kisah cinta sejati yang dapat mengalahkan peristiwa salib. Dengan cinta-Nya yang begitu besar itu, ia memampukan kita mencintai orang lain, mencintai sesama kita. Cinta itu harusnya lahir dari Allah sendiri.
Allah juga yang merancang ide pernikahan, menyatukan kedua insan dengan prinsip kesepadanan, di dalam institusi yang didasarkan pada Kristus. Allah yang mempersatukan dua daging menjadi satu tubuh. Allah melalui Roh Kudus memimpin pernikahan menjadi keluarga misi yang menjadi berkat bagi sesama manusia. Allah yang mengubah hati pria menjadi seorang ayah, dan wanita menjadi seorang ibu. Allah yang mengijinkan sebuah pasangan memiliki keturunan, mengijinkan seorang wanita memiliki janin dalam perutnya dan melahirkan dengan penuh kesakitan. Membuat seorang pria bangga di balik kaca rumah sakit karena tangisan kecil seorang bayi.
Karena anugerah dan kasih-Nya yang begitu besarlah, seorang suami dan ayah dapat mencintai istri dan anaknya dalam suka dan duka sebagaimana janji suci yang diikrarkan dalam pernikahan. Memilih berada di rumah dibandingkan hangout dengan teman – teman prianya. Memilih mengantarkan anaknya pergi ke gereja pagi dibandingkan tidur. Memilih membantu istrinya di rumah dibandingkan menonton pertandingan sepak bola bersama teman – teman lamanya.
Karena kasih Allah pula yang memampukan